Jumat, 24 Maret 2017

Trip ke Gunung Hawu dan Sanghyang Heuleut Padalarang

Mukadimah:
Setelah 2 minggu yang lalu kita berhasil mengobati rasa kangen akan naek Gunung dg ngetrak ke Gunung Munara, perasaan rindu dan haus itu makin merajalela hingga akhirnya kita akan melanjutkan perjalanan kita mencari Gunung yang tidak terlalu tinggi dan bisa dijangkau dalam hitungan maksimal 2 jam. Setelah searching ke mbah gugel gw putuskan untuk melakukan perjalanan mencari bukit di Bandung Barat tepatnya di Padalarang. Setelah minggu kemarin kita gagal membeli tiket dikarenakan kehabisan, akhirnya niat suci ini baru bisa terkabul weekend ini.

Sabtu, 18 Maret 2017
Tiket tertera 05.00, jadi kita harus menyiapkan mengumpulkan nyawa jam 04.00. Ya perjalanan ini mau ga mau dan terpaksa harus mengajak seonggok anak manusia yang sudah gw ceritakan di perjalanan sebelumnya. Trip kita kali ini di awal kita rencanakan sebagai trip ekonomi, karena kondisi keuangan yang masih belum stabil. Dengan 2 tiket kereta Argo Parahyangan seharga 80rb/tiket di tangan kita siap memulai trip kita kali ini. Dan ternyata ini trip pertama Feri naek kereta jauh, biasa mentok di KRL. Dalam hati gw cmn berharap moga nih anak ga mabok.. wkwk
Ga seperti yang gw bayangin sebelumnya ternyata kereta ekonomi sekarang sangat jauh berbeda seperti 5 tahun yang lalu (terakhir naek kereta ekonomi)

Penampakan di dalam kereta

Perjalanan menggunakan kereta api ekonomi ini menyiksa untuk orang seperti aku yang memiliki tinggi 178 cm, tapi ga berlaku untuk fero dengan tinggi 165 cm.
Dan akhirnya kami tiba juga di stasiun Bandung, gw segera menghubungi sewa motor yang sebelumnya sudah kita booking. Ternyata, nomor yg aku dapat dari internet hanya bersifat agen, yang kemudian kita diarahkan lagi ke pemilik motor. Dengan harga sewa sehari 120  rb dan ongkos antar 40 rb, menurutku lumayanlah dari pada kita hrs naek turun angkutan umum. Sedikit ada masalah si agan yang punya motor pas lagi sakit, hingga akhirnya istrinya yang mengantar,, sempet molor dari jam 8 pagi baru tiba jam 10. Tapi ada untungnya juga kita jadi jalan-jalan dan hunting foto di alun-alun dan sempet menitipkan 1 tas ke hotel, jadi lumayan enteng pas kita ngetrip bawaannya. Oh iya 5 hari sebelumnya kita sudah booking hotel raflesshom di daerah alun-alun dengan sewa 320rb/malam plus breakfast.

18 Maret 2017 pukul 10.15

GUNUNG HAWU
 
Kita memulai perjalanan dari kawasan Jl Asia Afrika dengan tujuan pertama Gunung Hawu di Padalarang. Berbekal map google kita mengarah menuju lokasi. Hingga akhirnya belokan menuju lokasi kita tidak menemukan satu petunjuk apapun, sampai kita tidak begitu yakin apakah benar map google memberi petunjuk yang benar. Hingga akhirnya kita tanya orang yang kita temui telah meyakinkan kita bahwa kita berada di jalan yang benar. Jalanan menuju lokasi nanjak, bebatuan kapur dengan tekstur tanah liat. Perpaduan batu dan lumpu ditambah tanjakan yang terjal,, sempurna untuk trek pertama. Semakin keatas tidak ada satu orangpun yang bisa kita temui, benar-benar sepi. Kita sempet tidak yakin, karena tempat ini benar-benar sepi dan hampir tidak ada jejak-jejak kehidupan.

Jalan menuju lokasi Gn Hawu
Menuju puncak jalanan setapak dipenuhi oleh rumput liar yang menjulang tinggi, disini kita hrs memarkir kendaraan di bawah untuk melanjutkan jalan kaki sekitar 100 meter. Di akhir pendakian serasa private vacation, hanya kita berdua. Hammock yang bertebaran yang gw lihat di instagram sudah tidak ada lagi kecuali bekas-bekas besi yang menancap mungkin sebagai pengikat tali hammock. Di atas pandangan begitu luas dengan 360 derajat pandangan, mulai dari kota, danau, sawah dan gunung batu.





Karena begitu menikmati pemandangan dan suasana yang damai, kita hingga lupa bahwa jam sudah menunjukkan jam makan siang dan masih beberapa list tempat yang harus kita kunjungi.

SAHYANG HEULEUT

Setelah makan siang dan sholat kita melanjutkan perjalanan ke Sahyang Heuleut, etimasi perjalanan di google map sekitar 1 jam. Ok,jam 1 siang kita melanjutkan perjalanan menuju sahyang heuleut. Ternyata perjalanan memang lumayan jauh ditambah jalanan yang dipenuhi kendaraan-kendaraan besar dan gerimis. Seperti perkiraan kita tiba di Sahyang Heuleut jam 2 siang. Mamarkir kendaraan kami di warung kami dihampiri orang yang menawarkan jasa untuk menjadi gaet untuk menuju lokasi. Sblmnya saya sempat bertanya memang harus menggunakan gaet untuk ke lokasi, kemudian dijelaskan bahwa untuk menuju lokasi banyak jalan dan bisa saja kami tersesat kalau tidak didampingi. Ya sudahlah dalam hati, hitung-hitung ikut membantu warga sekitar. Untuk gaet biaya yang dikeluarkan 80rb plus tips 20 rb. Tadinya kita sempat kaget juga saat dikasih tau bahwa menuju lokasi dibutuhkan sekitar 1 jam perjalanan, pulang pergi 2 jam perjalanan. Tapi ya sudahlah yah sudah tanggung untuk kami mencapai tempat ini.
Kebetulan saat itu sedang gerimis, perjalanan ini benar-benar diluar dugaan kami. Medan yang lumayan berat, trek yang naek turun, berjalan diatas lumpur, batu, kayu sampai air. Perjalanan yang sepertinya tidak sampai-sampai. Gerimis terus turun dan gw pun ga bisa bedain badan ini basah karena air hujan atau keringat. Sepanjang perjalanan kita disuguhkan hijaunya pemandangan dan aliran panjang sungai yang dipenuhi batu-batu besar. Setelah naek turun, nyebrang sungai 2 kali dan perjalanan panjang akhirnya kita tiba di spot, trip kali ini kita sangat kurang beruntung, hujan yang turun dari pagi membuat aliran menjadi keruh karena terbawa materi lumpur. Kl feri bilang ga beda jauh sama sungai dibelakang rumah dia di Lampung. Tapi aku berusaha untuk menikmati, begitu tiba di lokasi aku langsung lepas baju dan segera berenang di sahyang walaupun kondisi air yang sangat coklat.

Pipa dari bendungan untuk pembangkit listrik

Lokasi utama Sahyang Heleut (harusnya airnya bening, kita datang disaat kurang beruntung)

Treck menuju lokasi

Ga banyak foto yang bisa kita ambil disini, karena gerimis yang terus turun kita jd males untuk mengeluarkan kamera, ditambah kondisi tubuh yang sudah sangat letih.
Ketika pulang, gw sungguh sangat terheran-heran yang kebetulan pada saat itu kita pulang barengan dengan ibu penjual warung yang mempunyai anak kecil. Ibu itu dengan tentengan dipunggung dan ditangan sama sekali tidak merasakan letih seperti gw sama feri, begitu anak ceweknya yang mungkin masih SD kelas 4 begitu ringan langkahnya walaupun medan begitu sulit, apalagi ditambah gerimis yang membuat jalanan makin licin. Belum juga gaet kami yang sedari awal hingga akhir tujuan berjalan sambil memasukkan tanggannya dalam kantong celana. Gw dan feripun berusaha untuk mengimbangi langkah mereka, tapi ya apalah daya hingga akhirnya ibu dan anknya itupun minta ijin untuk mendahului kita,,,, wkwk. Yang gw ga habis pikir, dengan perjalanan yang begitu berat.. minuman yang dijual itu ga fantatis dengan pengorbanannya. Satu gelas susu indomilk dijual 5 rb, belum kita ngeributin ibu-ibunya untuk meminta kantong untuk tempat pakaian basah kita.. Ya Alloh,,, nikmat mana yang aku dustakan. Syukur mana yang aku lewatkan. Inilah indahnya sebuah perjalanan, banyak hal yang bisa temui. Banyak ciptaan Alloh yang begitu sempurna. Banyak pelajaran yang kita temui.

Sekitar 300 meter kita parkir terdapat pemandian air panas, jadi pemandian ini dibagi 2 langsung dari pancuran dan yang sudah di tampung di bak dalam kamar-kamar. Kitapun ga melewatkan kesempatan itu begitu sampai kita langsung menuju pemandian, sembari bersih-bersih badan, berendam juga menghilangkan pegal-pegal dari perjalanan yang baru saja kita lalui. Keluar berendam badan berasa fresh lagi. Dan kita siap untuk melanjutkan perjalanan kembali ke kota.

Dan lagu yang mengiringi perjalanan gw kali ini adalah One Direction - History

Memiliki tujuan di akhir perjalanan adalah sesuatu yang bagus, tapi pada akhirnya, yang penting adalah perjalanannya.

Salam, #selaluadaalasanuntukbersyukur

Kamis, 09 Maret 2017

Trip ke Gunung Munara

3 Maret 2017
Tahu bulat di goreng dadakan.. wkwk
Memang kalau yang dadakan itu enak, yah kaya tahu bulat. Ceritanya berawal dari gw yang pengen banget pergi ke Bandung.  Naek kereta terus nyari sewaan motor buat ngetrip di Bandung. Tapi takdir berkata laen, tiket ke Bandung sudah penuh semua.
After Jumatan, iseng buka2 tempat wisata yang deket2 dari Jakarta, sampe akhirnya ketemu tempat yang memang banget gw pengen, gunung tapi ga terlalu tinggi. Gw langsung pengen banget pergi ke tempat ini, kenapa?? karena gw udah kangen banget gunung (terakhir jaman SMA, krn dulu satu2nya kegiatan extra kulikuler yang gw ikutin cuman pecinta alam), merasakan nafas ngos-ngosan dibawah cakrawala, diatas lumpur dan diantara dedaunan jatuh.
Berhubung temen-temen seumuran gw pada sibuk gendong anak jd gw ngajak orang yang pada usianya masih haus akan jalan-jalan,, haha,, maaf ga ada kata-kata laen. So, kenalin namanya Feri Romadhona, gw suka nyingkat manggil fero. Berawal dari tim dalam satu project yang sama, gw jd kenal deket sm nih anak.. cerita tentang fero nanti dilanjutin sambil jalan. Jadi, bak gayung bersambut Fero langsung bilang, yaudah subuh kita jalan. Ok, akhirnya kita sepakati untuk memudahkan keberangkatan kita, fero malamnya nginep dikosan gw di daerah Cempaka Putih. Malam sekitar jam 22.00 fero datang ditemani satu temennya.

4 Maret 2017
Kesepakatan kita untuk berangkat subuh molor, fero baru ngehubungin gw jam 6.30, dan seperti weekend biasanya gw masih mager banget diatas kasur. Sampai akhirnya jam 07.00 gw nyamperin fero di kosan gw yang cuman berjarak 100 meter dari rumah gw. Disana sudah ada satu temen fero, namanya Nanang. Namanya juga dadakan, bahkan gw lupa buat lihat peta lokasinya. Alhasil menjelang keberangkatan kita baru cek map lokasi, untung si fero pernah setahun tinggal di daerah-daerah sana, jd setelah lihat map dia langsung paham. Jam 7.15 kita jalan dari rumah, dengan 2 motor, gw sendiri dan fero boncengan sm Nanang. Baru jalan 1 km, gw ragu apa dompet sudah kebawa, setelah gw cek di dalam tas gw ga nemuin dompet gw. Dan akhirnya gw putusin buat balik lagi, sementara fero sm nanang ke pom bensin. Ribet nyari-nyari di kamar dompet ga ketemu, dan gw baru inget ternyata dompet ada di kotak motor bawah setir, haha,,, maklum usia,,, Gw samperin fero di pom bensin, kemudian kita lanjut sarapan di KFC, ambil paket breakfast combo bertiga habis Rp.96.000 (oke, ini pengeluaran pertama ya)
Perjalanan kita mulai, berangkat dari Cempaka Putih jam 08.15. Jalanan sabtu itu terbilang lumayan sepi, hingga akhirnya kita melalui jalur padat merayap di lebak bulus. Jalanan menuju lokasi terbilang lumayan lah ga ancur-ancur banget. Dari lebak bulus kita menuju Parung, dari pasar Parung kita belok kanan disini jalanan cukup padat merayap, jalurnya ga terlalu lebar. Ribet pas ada truk besar, susah nyalipnya. Dijalanan ini pula polisi tidurnya ngeselin, ga terlalu tinggi tapi cukup terasa.
Dalam perjalanan ini mata juga harus tajam, krn tanda menuju tempat ini bisa terlewatkan oleh mata. Seperti yang terjadi dengan perjalanan kita, kita sempat kelewat tapi ada untungnya juga kita bisa berhenti di Indomaret dan mengisi perbekalan. Roti, minuman, tissue dan tissue basah kira-kira habis Rp.70.000. Tidak jauh dari jalan utama, setelah ada penunjuk situs Gunung Munara sekitar 300 meter tersedia lokasi parkir, jalan menuju lokasi parkir pas digunakan untuk 1 mobil.


Jika sudah menemukan tanda ini lokasi sudah dekat

 Tempat terakhir pemberhentian motor dan mobil

Setelah memasuki lokasi ada tiket retribusi sebesar Rp. 5.000/orang, dan untuk parkir per motor kl ga salah Rp. 3.000, lupa karena waktu itu si fero yang bayar.
Kita sampai disini pukul 10.05, dan langsung tidak sabar untuk mendaki gunung Munara. Melalui sungai dan perkebunan warga dan lagi-lagi ada pungutan dari warga setempat dengan alibi untuk uang kebersihan, walau seikhlasnya tetap dimintai perorang. Trek awal tidak terlalu extrem tetapi cukup membuat nafas habis dan keringat mengalir. Kebetulan cuaca disana saat itu juga cukup panas.
Hingga tiba di pemberhentian warung  pertama terjadi sebuah tragedi, si Nanang sepertinya sudah tidak bisa melanjutkan perjalanan. Beberapa kali dia bilang menyerah dan sepertinya tidak bisa melanjutkan sampai akhirnya tega tak tega kami meninggalkannya di warung.

Si fero exist dengan nenek

Tidak jauh setelah kita meninggalkan nanang, kita bertemu dengan nenek yang sepertinya baru saja turun dari atas gunung. Disaat kita dengan usia muda sudah hampir kehabisan nafas, sang nenek yang dengan kondisi kakinya yang sakit ini sepertinya tidak merasa lelah sedikitpun.. benar-benar salut kita dengan sang nenek ini, sampai si fero heboh minta difoto bareng dengan sang nenek.
Ternyata di Gunung Munara terhitung ada beberapa penjual, jadi kita tidak khawatir kehausan atau lapar dalam perjalanan menuju puncak. 
Tiba di Pos 3, pemandangan di bawah sudah mulai cukup menakjubkan, hamparan pematang sawah nampak begitu eksotik. Tapi dan lagi-lagi ada pungutan lagi yang mewajibkan kita membayar Rp. 5000/orang dan kita nama kita di data di sebuah buku di sebuah gubuk yang sepertinya dikelola oleh sebuah ormas.
Tak ingin lama-lama kami segera mensegerakan langkah kita menuju puncak, hingga kita tiba di sebuah batu tinggi yang terbelah. Butuh kehati-hatian untuk menuju ke atas karena batunya lumayan licin. Setelah kita menaikinya kita baru sadar ternyata ada jalan lain yang lebih bersahabat,, Memang di beberapa lokasi petunjuk tidak ada jadi jika salah kita bisa terkecoh menuju jalan yang tidak berujung di puncak tetapi entah kemana. Setelah beberapa kali mengambil gambar dan menggodai neng-neng yang kebetulan ada di situ kita melanjutkan lagi perjalanan hingga tiba di sebuah batu tinggi yang telah disediakan tali untuk memanjatnya. Kita kurang tahu disebut apa tempat ini. Disaat aku dan fero asik berfoto-foto diatas batu tiba-tiba si nanang yang tertinggal di warung berhasil menyusul kita, alhasil kita bertiga narsis-narsisan diatas puncak batu. Puncak Batu ini tidak bisa digunakan oleh banyak orang karena posisi puncaknya yang memang lumayan sempit dan dikelilingi tebing-tebing curam, beberapa kali kaki ini terasa gemetar di kala harus berdiri untuk mengambil gambar. Ga terasa hampir 1,5 jam kita menghabiskan waktu ditempat ini. Dan kebetulan ada warung dibawah batu ini, kita ngobrol-ngobrol dengan pedagangnya,, ada hal yang membuat kita terpana, karena yang sedari awal kita menyangka ini adalah puncak Gunung Munara ternyata masih ada puncak tertingginya lagi,, haha. Padahal tenaga dan banyak gaya sudah kita habiskan untuk befoto-foto disini.
 Jalur menuju atas batu



Numpang exis

Dengan petujuk tukang warung kita menyusuri jalanan, tak lama setelah warung ada sebuah musholla sederhana dan lumayan bersih. Sehabis sholat kita melanjutkan ke puncak. Dan ternyata jaraknya ga terlalu jauh, setelah berjalan 15 menit kita sampai ke puncak Gunung Munara. Disana sudah mulai rame oleh orang-orang yang tadi kita temui ketika dalam pendakian. Memang tak bisa dipungkiri puncak Gunung Munara mempesona, mata kita begitu leluasa memandang keeksotisan pemukiman dan hamparan sawah hijau dari atas.  Ada satu hal yang begitu menarik perhatian gw, tatkala melihat tingkah anak ABG berfoto dengan kata-kata diatas kertas yang selama ini juga sering gw lihat di IG. Hingga akhirnya ABG ini meminjamkan kertas dan spidolnya untuk kita. Haha... yeahhh, lumayan buat diupload di IG.. wkwk





Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 14.00, karena filling gw mau turun hujan dan sepertinya memang sudah lama juga kita menghabiskan waktu kita dan harus kembali ke Jakarta. Turunpun ternyata juga lumayan capek, capek menahan beban tubuh.. Tapi perjalanan ini benar-benar membuat bahagia, ga perlu jauh-jauh untuk menciptakan petualangan baru. 

Soundtrak lagu perjalanan gw kali ini Lyla - Turis

Mengutip status facebok fero :
"Hasil tidak pernah menghianati proses"
Jatuh bangun, lelah seolah ingin menyerah, hujan, panas dan segala hambatannya akan terbayar jika kita ttp memilih untuk maju menghadapinya..begitu juga hidup!
Keep semangat sabtu minggu..beranjak dari kasur empukmu gaes

dan mulai saat itu kita akan menghabiskan weekend kita untuk mencoba petualangan baru, karena hari itu juga kita membuktikan bahwa kebahagiaan tidak melulu soal uang, bahagia itu sederhana.



Salam, #selaluadaalasanuntukbersyukur






Selasa, 08 September 2015

My Vacation ( Pandeglang - Anyer )

Penat dengan urusan kantor yang makin menggila, setiap hari pulang larut. Dan denger kabar adek gw mau dimutasi, yah mau ga mau kita ga bisa sekantor lg. Akhirnya aku putuskan buat ikut dia ke Pandeglang skalian jemput ponakanku. Berangkat dari Jakarta Jumat (4/9) jam 17.30, mau ga mau kita bertarung dengan kepadatan lalu lintas Jumat sore. Mampir sholat Magrib di Tol Karang Tengah sembari beli oleh-oleh buat mertua adek gw. Tiba di Pandeglang jam 21.30, rasa capek langsung hilang ngeliat senyum ponakan gw,, hehe. Makan malam dan sedikit obrolan hingga tak terasa jam 23.00 dan akhirnya kita tidur.

Sabtu (5/9) pagi terbangun sudah jam 06.00, bergegas sholat subuh kemudian searching mau ke tempat mana kita pergi menjelajah Pandeglang. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk ke Tanjung Lesung. Mer, adek gw pagipagi ngajak untuk mencari sarapan sembari keliling kota Pandeglang. Ternyata di kota ini orang jual sarapan ga sebanyak kota-kota laen. Dan akhirnya, jauh-jauh ke Pandeglang kita sarapan nasi uduk juga.


Pulang sarapan jadi agak-agak males bergerak dan malah tertidur lagi, hingga akhirnya kita baru jalan jam 10.00. Ternyata perjalanan menuju Tanjung Lesung lumayan jauh, masih butuh 2 jam perjalanan dari Pandeglang. Jalanan sih sudah bagus, walau tidak rata.
Kakak Faishol begitu semangat melihat hamparan pasir di pantai. Kita yang sudah dari dulu menaham lapar, akhirnya memutuskan untuk mencari tempat makan, dan ternyata cuman hanya satu tempat makan. Tanjung lesung pengelolaanya sudah dipegang swasta, dengan tiket masuk seharga 40 rb/orang.
Sebelum memutuaskan untuk berenang kita menyew perahu untuk mengelilingi Pantai Tanjung Lesung dan melihat kehidupan bawah laut dengan perahu yang dirancang untuk bisa melihat terumbu karang dari dalam kapal. Panas dan sengatan matahari tak kita hiraukan, we just want happy that day.
Kakak yg tadinya takut malah akhirnya doyan banget berada di depan perahu untuk menikmati indahnya pantai.


Puas mengelilingi pantai dengan perahu, kakak udah ga sabar buat nyemplung ke air. Di siang bolong dengan teriknya matahari kita pun berenang tanpa peduli kulit menghitam.



Ga terasa hari semakin sore dan saya harus melanjutkan perjalanan ke Karang Bolong menemui Sahabat baik gw Linda. Ternyata dari Tanjung Lesung ke Karang Bolong masih menempuh perjalanan yang panjang. Dan yang membuat gila, Linda yang nota bene menjadi satu2nya alasan gw ke Karbol malah ga bisa dihubungi. Berbekal informasi yang minim akhirnya gw bisa nemuin villa punya keluarga Linda. Sampai sana sudah magrib, saya menginap di Karbol, sementara adek dan ponakanku harus balik ke Pandeglang. Malam minggu sendirian di villa bener-bener ga terbayangkan. Tapi dalam kesepian itu aku benar2 menemukan sebuah kedamaian. Jauh dari kepusingan kerja sehari-hari, yang ada hanya suara ombak pantai dan petikan gitar yang mengalun dari kejauhan.

Minggu (6/9) Pagi-pagi Linda sudah nyamperin ke kamar, akhirnya kita ketemu juga. Sembari berjalan menyelusuri bibir pantai karbol yang begitu indah kita bercerita ngalor ngidul, dan baru tau kalau ternyata komplek sepanjang karbol itu masih punya keluarga suami Linda.




 Oh iya Linda di karbol negbuka usaha warung kecil-kecilan yang kata dia lumayan pendapatanya bisa buat tambah-tambahan jajan. Sampai akhirnya gw berpikir untuk membuka juga satu di kosan.


Ternyata stok makanan laut disini lumayan banyak, sambil nunggu adek jemput kita ngebakar ikan dan cumi tangkepan nelayan.


Kenyang makan, kemudian adek gw dateng bersama malaikat kecil gw. Dari awal aku udah yakin bahwa kakak pasti ngajak berenang melihat pantai karbol, walaupun kemarin sudah seharian berenang di Tanjung Lesung. Dan benar, begitu melihat pantai kakak udah merengek minta mandi. Dan lagi, di siang bolong kita mandi lagi dibawah terik matahari.


detik-detik sebelum kakak tiba-tiba muntah akibat kebanyakan minum air laut


Hari sudah semakin sore, dan kita harus dengan paksa menyudahi kegembiraan kakak berenang untuk kembali ke Jakarta. Sebenernya ga tega cuman, masih ada agenda yang kita datengin di Jakarta. Itulah sekelumit Liburan dadakan gw. Sebentar tapi sangat berharga.

Miss u kak..

Selasa, 11 Februari 2014

Kecewa sekecewa-cewanya

 Lo temen terbaik yang pernah gw temuin dalam hidup gw. Lo tau itu kan? Dan yang pasti sikap lo udah ngebuat gw bener2 kecewa dan sakit hati. Semua alasan2 lo yg lo beri gw itu ga bisa gw terima. Semua jawaban lo mengandung banyak arti. Lo ga pernah mau ngerasain apa yg gw rasain.. lu bener2 egois. Lo tu kyk menusuk gw ketika gw bener2 butuh lo.